Sunday, June 30, 2013

DASAR-DASAR PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL

            Karakteristik anak, bagaimana tiap perasaan, pikiran, dan tindakan, mempengaruhi anak merespons terhadap yang lain dan beradaptasi dengan dunia. Sejak masa bayi, perkembangan kepribadian berkaitan erat dengan hubungan sosial yang dimaksud dengan perkembangan psikososial
Tiap bayi, sejak awal, menunjukkan kepribadian yang berbeda satu sama lain. Campuran yang relative konsisten antara emosi, temperamen, pikiran, dan tingkah laku-lah yang menjadikan setiap orang itu unik.

EMOSI
Emosi adalah reaksi subjektif terhadap pengalaman yang diasosiasikan dengan perubahan fisiologis dan tingkah laku. Misalnya, rasa marah akan diikuti dengan meningkatnya detak jantung dan tindakan melampiaskan kemarahannya.
Perkembangan emosional merupakan proses yang terjadi secara bertahap dimana emosi yang rumit merupakan hasil dari emosi-emosi sederhana. Karakteristik pola reaksi emosional seseorang mulai berkembang pada masa bayi dan merupakan elemen dasar kepribadian. Namun seiring tumbuhnya anak, beberapa respons emosional dapat berubah.

Tanda Pertama Emosi
Menangis merupakan salah satu dari tanda-tanda pertama emosi. Menangis merupakan jalan bagi bayi untuk mengomunikasikan kebutuhannya. Ada empat pola menangis, yaitu :
·         Tangisan lapar (tangisan beritme)
·       Tangisan marah (variasi tangisan beritme dimana banyak udara dipaksakan melewati pita suara)
·         Tangisan sakit (tangisan tiba-tiba tanpa didahului rintihan, kadang diikuti menahan nafas)
·         Tangisan frustasi (dua atau tiga tangis, tanpa menahan nafas panjang)
Tanda pertama emosi lainnya adalah tersenyum dan tertawa. Senyum kecil paling dini adalah segera setelah lahir, yang merupakan hasil aktivitas sistem saraf subkortikal. Senyum kecil ini sering muncul pada periode REM Sleep dan berkurang setelah tiga bulan pertama.
Senyum sadar paling dini diakibatkan sensasi halus, seperti tiupan di kulit bayi. Tertawa menyebabkan bayi dapat menunjukkan bahwa bayi bisa menyebabkan berbagai hal terjadi sesuai yang bayi harapkan. Tertawa juga membantu bayi melepas ketegangan.
·         Minggu kedua, bayi mungkin tersenyum mengantuk saat merasa kenyang
·         Minggu ketiga, bayi tersenyum saat memperhatikan anggukan kepala dan suara pengasuh
·         Bulan pertama, senyum bayi lebih sering dan lebih sosial
·         Bulan kedua, bayi tersenyum terhadap stimulus visual
·         Bulan keempat, bayi tertawa keras ketika dicium di perut atau dikelitik
·         Bulan keenam, terkekeh merespons suara dan tingkah aneh orang terdekatnya
Jenis Emosi
Segera setelah lahir, bayi menunjukkan emosi dasar, berupa tanda puas, tertarik, dan distress. Tanda-tanda ini merupakan respons psikologis terhadap rangsangan sensori atau proses internal dan bersifat refleks. Pada enam bulan berikutnya, emosi sebenarnya mulai muncul (senang, kaget, sedih, jijik, marah, dan takut).
Self-Conscious Emotions seperti malu, empati, dan iri, muncul ketika bayi telah mengembangkan self-awareness, yaitu pemahaman kognititf bahwa bayi memiliki identitas yang dapat dikenali, terpisah, dan berbeda dari dunia di luar pikiran anak yang muncul antara usia 15-24 bulan. Rasa bersalah dan malu merupakan emosi yang berbeda, walaupun mungkin respons yang dihasilkan adalah sama. Fokus seorang anak yang merasa bersalah adalah tindakan yang buruk, bukan ‘diri yang buruk’. Seorang anak yang merasa bersalah akan mencoba membayar kesalahannya daripada anak yang malu yang akan lebih mungkin menyembunyikan hasil kesalahannya. Sementara empati –kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan merasakan yang dirasakan orang tersebut, atau diharapkan merasakan –akan muncul pada tahun kedua. Empati berbeda dengan simpati, dinana hanya melibatkan rasa sedih, khawatir, atau iba terhadap kondisi orang lain.

TEMPERAMEN
Temperamen terkadang didefinisikan sebagai karakteristik seseorang. Sebenarnya, temperamen adalah cara biologis individu untuk mendekati dan bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Temperamen dideskripsikan sebagai bagaimana seseorang bertingkah laku.
Dalam New York Longitudinal Study (NYLS), dilakukan penelitian tentang temperamen dengan memantau 133 bayi hingga masa dewasa. Hasil dari penilitian menunjukkan anak-anak ini memiliki karakteristik yang berbeda dalam menanggapi situasi tertentu, yaitu :
·         Easy children ; bahagia, mudah menerima pengalaman baru, ritme biologis teratur
·   Difficult children ; mudah terganggu, sulit disenangkan, ritme biologis tidak teratur, tidak merespons baik terhadap hal baru
·         Slow-to-warm-up ; tenang tapi sulit beradaptasi dengan hal baru
Temperamen merupakan bawaan, mungkin bersifat herediter dan cukup stabil. Hal ini bukan berarti temperamen sudah terbentuk utuh sejak lahir. Temperamen berkembang bersamaan dengan munculnya berbagai emosi dan dapat berubah sebagai respons terhadap sikap dan perlakuan orang tua.
Budaya dan dasar biologis memengaruhi cara orang tua menghadapi anak. Anak laki-laki yang cenderung pemalu mungkin tetap demikian hingga usia 3 tahun, bila orang tua mereka menerima reaksi anak mereka tersebut. Di negara barat, anak pemalu dianggap tidak dewasa, sementara di Asia, anak yang pemalu cenderung diterima secara sosial.

BAYI DALAM KELUARGA
Berbicara tentang bayi dalam keluarga, maka pengasuhan adalah topic utama. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pola interaksi orang dewasa dan bayi yang diterima mungkin memiliki dasar budaya. Dengan memperhatikan informasi tersebut, yang selanjutnya menjadi topic adalah peran ibu dan ayah sebagai pengasuh utama dalam keluarga.
Peran Ibu
Hal yang paling penting untuk diperjelas adalah bahwa menyusui bukanlah hal satu-satunya, atau bahkan hal yang paling penting, yang harus bayi dapatkan dari ibu mereka. Menjadi ibu berarti memberikan rasa nyaman melalui kontak tubuh yang dekat, dan kepuasan dari kebutuhan bawaan untuk bergantung.
Peran Ayah
Peran ayah secara esensial merupakan suatu kontruk sosial dan memiliki makna yang berbeda di tiap budaya. Begitupun dengan pola asuh dan cara bermain dengan bayi mereka, tiap ayah memiliki cara yang berbeda. Namun akhir-akhir ini, peran ayah dalam pengasuhan bayi cenderung meningkat dikarenakan factor ibu yang harus bekerja di luar rumah.

Menjadi laki-laki atau perempuan mempengaruhi bagaimana seseorang berpenampilan, bergerak, bekerja, berperilaku, bermain, dan lainnya. Konsep gender tentang ‘Apa artinya menjadi laki-laki dan perempuan?’ dibentuk sejak bayi dimana ibu dan ayah merupakan pemeran utama dalam membentuk perbedaan gender pada anak mereka. Pembentukan kepribadian anak laki-laki dan perempuan oleh orang tua tampak sangat dini. Terutama ayah, mempromosikan gender-typing, yaitu proses dimana anak mempelajari tingkah laku yang dianggap pantas bagi mereka sesuai dengan budaya masing-masing.

Salah satu perbedaan dini dalam tingkah laku antara laki-laki dan perempuan muncul pada usia 1 dan 2 tahun dimana anak sudah memiliki preferensi terhadap mainan dan teman bermainnya.

Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.
“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar.”, sahut tamunya.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Dikutip dari : 
http://virouz007.wordpress.com/2012/07/09/garam-dan-telaga/#more-1079

Tugas Mata kuliah PUM2

                  Study Kasus Seksualitas 

           Di Televisi maupun di surat kabar saya banyak melihat kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak ( Sexual Abuse of Children )Baik yang dilakukan oleh ayah tirinya maupun oleh tetangganya. Ada kasus yang awalnya dia diberi apapun keinginannya dahulu, setelah si korban percaya lalu si tetangga ini melakukan pelecehan dan pemerkosaan anak (child rape) tersebut, ada juga seorang ayah tiri yang tinggal bersama anak tirinya dirumah sementara ibu si anak tersebut mencari nafkah, si bapak tega melakukan Incest atau pelecehan seksual pada anak itu dan mengancamnya agar tidak memberi tahu sang ibu.

Thursday, May 16, 2013

SLB - A,B,C,D,E


Kelompok 6
Nama Anggota :
Catherine Febrianty (12-036)
Arifah Rakatasya Siregar (12-052)
Khadhra Ulfah (12-062)
Fitri Nirwana Sinaga (12-074)
Melinda Salim (12-092)

Seperti yang telah diketahui, sekolah mempunyai peranan penting dalam kehidupan kita. Tanpa ada sekolah, kita tidak bisa membaca huruf, belajar, dsb. Di Indonesia sendiri, sudah banyak terdapat sekolah-sekolah, baik sekolah negeri, sekolah swasta dan sekolah internasional. Semua itu hanya untuk anak-anak normal. Bagaimana dengan anak-anak yang mempunyai kekurangan? Apakah mereka tidak boleh memperoleh pendidikan seperti layaknya anak-anak normal?

Berikut adalah kriteria-kriteria sekolah luar biasa kelompok kami sesuai dengan jenisnya :

1. SLBA
SLBA adalah sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak yang mengalami cacat mata (tunanetra).

a. Susunan Kelas
Gaya Auditorium yaitu Susunan Kelas di mana semua murid duduk menghadap guru.

b. Guru
Guru bagi ABK-A harus menguasai karakteristik/strategi pembelajaran yang umum pada anak-anak tunanetra meliputi tujuan, materi, alat, cara, lingkungan, dan aspek-aspek lainnya yang dibutuhkan oleh ABK-A dan mereka harus dibimbing oleh guru yang sifatnya penyabar, tekun, bertanggung jawab dan memiliki kemampuan serta pengalaman untuk melatih ABK-A tersebut.

c. Kurikulum
Kurikulum yang digunakan untuk ABK-A ini bisa dengan : 
Metode ceramah
Yang dimaksud dengan metode ceramah adalah cara penyampaian sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa/i . Metode ceramah dapat diikuti oleh tunanetra karena dalam pelaksanaannya penyampaian materi pelajaran ini disampaikan oleh guru dengan penjelasan lisan dan siswa hanya mendengar penyampaian materi dari guru tersebut.

Metode Tanya jawab
Metode tanya jawab ialah penyampaian pelajaran dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab atau suatu metode di dalam pendidikan di mana guru bertanya sedangkan murid menjawab tentang materi yang ingin diperolehnya.
Menurut Zakiah Daradjat metode tanya jawab adalah salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan-kekurangan yang terdapat pada metode ceramah. Ini disebabkan karena guru dapat memperoleh gambaran sejauh mana murid dapat mengerti dan dapat mengungkapkan apa yang telah diceramahkannya.
Siswa tunanetra mampu mengikuti pengajaran dengan menggunakan metode tanya jawab, karena metode ini merupakan tambahan dari metode ceramah yang menggunakan indera pendengaran.

Metode Diskusi
Metode diskusi adalah salah satu alternatif metode yang dapat dipakai oleh seorang guru di kelas dengan tujuan dapat memecahkan suatu masalah berdasarkan pendapat para siswa. Seiring dengan itu metode diskusi berfungsi untuk merangsang murid berfikir atau mengeluarkan pendapatnya sendiri mengenai persoalan-persolan yang kadang-kadang tidak dapat dipecahkan oleh suatu jawaban atau suatu cara saja, tetapi memerlukan wawasan atau ilmu pengetahuan yang mampu mencari jalan terbaik atau alternatif terbaik.
Anak tunanetra dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar yang menggunakan metode diskusi, mereka dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan diskusi, karena dalam metode diskusi diutamakan kemampuan daya fikir siswa  untuk memecahkan suatu persoalan dan metode ini bisa diikuti tanpa menggunakan indera penglihatan.

d. Biaya
270.000/bulan dan menyediakan potongan harga bagi siswa yang kurang mampu secara ekonomi yaitu dengan hanya membayar uang sekolah 35%.

e. Fasilitas 
Penunjang pendidikan untuk anak tunanetra secara umum sama dengan anak normal, hanya memerlukan penyesuaian untuk informasi yang memungkinkan tidak dapat dilihat, harus disampaikan dengan media perabaan atau pendengaran. Fasilitas fisik yang berkaitan dengan gedung, seharusnya sedikit mungkin parit dan variasi tinggi rendah lantainya, hindari dinding yang mempunyai sudut lancip dan keras. Perabot sekolah sedapat mungkin dipakai yang sudutnya tumpul. 
Fasilitas penunjang pendidikan yang diperlukan untuk anak tunanetra menurut Annastasia Widjajanti dan Imanuel Hitipeuw (1995) adalah braille dan peralatan orientasi mobilitas, serta media pelajaran yang memungkinkan anak untuk memanfaatkan fungsi perabaan dengan optimal. 

Fasilitas pendidikan bagi anak tunanetra antara lain adalah: 

Huruf Braille 
Huruf Braille merupakan fasilitas utama penyelenggaraan pendidikan bagi anak tunanetra. Huruf Braille ditemukan pertama kali oleh Louis Braille. 

Tongkat putih 
Tongkat putih merupakan fasilitas pendukung anak tunanetra untuk orientasi dan mobilitas. Dengan tongkat putih anak tunanetra berjalan untuk mengenali lingkungannya. Berbagai media alat bantu mobilitas dapat berupa tongkat putih, anjing penuntun, kacamata elektronik, tongkat elektronik. 

Laser cane (tongkat laser) 
Tongkat laser adalah tongkat penuntun berjalan yang menggunakan sinar inframerah untuk mendeteksi rintangan yang ada pada jalan yang akan dilalui dengan memberi tanda lisan (suara). 

Audio

f. Orientasi Belajar
Orientasi belajar yang digunakan Teacher Center Learning dimana guru yang menjadi pusat pembelajaran dalam suatu proses belajar mengajar.

2. SLBB
Sekolah Luar Biasa – B adalah sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak yang memiliki gangguan pendengaran (tunagrahita). Gangguan pendengaran ini juga dapat mengakibatkan gangguan berbicara (tunawicara). Sekolah luar biasa ini menggunakan bahasa isyarat untuk melakukan proses belajar mengajar.

a. Susunan Kelas
Susunan kelas atau gaya penataan kelas yang bagus adalah gaya Auditorium yang dimana satu kelas hanya berisikan 4-8 murid yang duduk menghadap ke guru atau pengajar. Dengan susunan kelas ini, murid-murid dapat memperhatikan guru dengan baik dan guru juga dapat memperhatikan muridnya dengan seksama. Sebaiknya dalam satu kelas terdapat minimal 2 orang guru sehingga apabila ada murid yang mengalami kesulitan dapat dibantu secara maksimal.
Suasana kelas pun harus dibuat senyaman mungkin. Untuk anak-anak TK – SD, ruang kelasnya bisa dihias dengan hasil karya seni maupun foto-foto murid dan majalah dinding yang berisikan list-list murid terbaik setiap minggunya. List ini bisa saja menjadi suatu motivasi untuk murid-murid untuk belajar lebih baik lagi.

b. Guru
Guru yang mengajar di sekolah SLBB harus merupakan lulusan khusus dan memiliki kemampuan atau ahli dalam hal mengajar anak tunarungu dan tunawicara. Mereka diwajibkan untuk menguasai bahasa isyarat. Guru juga harus bisa mengajarkan banyak hal, selain hanya mahir di bidang eksakta atau yang teoritis, mereka juga harus mempunyai ketrampilan seni. Guru-guru di SLBB juga diharapkan memiliki emosi yang stabil karena untuk mengajar anak SLBB harus menggunakan kesabaran ekstra.

c. Kurikulum
Kurikulum yang digunakan mungkin bisa menggunakan kurikulum yang digunakan oleh sekolah-sekolah biasa. Tapi sebelum memasuki SD ataupun  tahapan yang lebih tinggi, dibutuhkan kelas persiapan bahasa isyarat dan bahasa bibir sehingga murid-murid tunarungu dan tunawicara ini tidak begitu banyak mengalami kesulitan. Bahasa bibir juga penting untuk dipelajari karena ketika murid itu berada di lingkungan yang dimana semuanya tidak memiliki gangguan, bahasa isyarat tidak bisa begitu digunakan karena tidak semua anggota masyarakat memahami bahasa isyarat.

d. Biaya
Biaya yang dikenakan kepada murid-murid di sekolah SLBB sama dengan biaya rata-rata sekolah biasa. Tidak ada perbedaan biaya antara sekolah normal dengan SLBB ini. Untuk murid yang kurang mampu, diringankan biayanya ataupun pihak sekolah membantu orang tua murid untuk mencari beasiswa ataupun sponsor dari luar.

e. Fasilitas
Setiap kelas harus terdapat sebuah TV. TV tersebut berguna untuk memberitahukan pemberitahuan penting (tentunya dengan bahasa isyarat)  ataupun menonton hal-hal yang bisa membantu proses belajar mengajar murid-murid tunarungu tersebut. Selain TV, mungkin AC juga diperlukan agar murid terasa lebih nyaman.
Sekolah juga harus mempunyai asrama (dorm) untuk murid-murid yang berasal dari luar daerah. Dorm ini selain bisa ditinggali oleh murid-murid dari luar daerah, murid yang berasal dari dalam daerah juga bisa tinggal disana tergantung dengan keputusan orang tua murid. 
Sekolah juga harus mempunyai kelas ekstrakurikuler misalnya kelas komputer, bahasa asing, literature, menggambar, memasak, olahraga dan sebagainya. Kelas ini diharapkan dapat membantu murid untuk menyalurkan minat dan bakat mereka tanpa terhambat oleh kelainan atau kekurangan yang dimiliki mereka. 
Sekolah harus memiliki jaringan internet wireless (WIFI) yang bagus sehingga murid bisa mengakses internet yang mungkin bisa membantu proses belajar mereka dan agar mereka tidak ketinggalan informasi terkini. Media untuk mengakses internet harus menggunakan computer atau laptop yang disediakan sekolah. Murid-murid tidak diizinkan membawa gadget sendiri karena bisa saja terjadi kesetimpangan sosial.
Koperasi sekolah, UKS, kantin dan perpustakaan juga harus dimiliki oleh sekolah ini. Tentunya semua fasilitas sekolah disesuaikan dengan murid-murid yang tunarungu dan tunawicara.

f. Orientasi Belajar
Orientasi Belajar untuk anak kelas TK – SD harus menggunakan sistem TCL (Teacher-Centered Learning) dan untuk tingkat yang lebih tinggi, sudah bisa menggunakan SCL (Student-Centered Learning) dengan tujuan, murid diharapkan dapat bersosialisasi dengan teman-teman, berusaha mengerjakan tugas sendiri tanpa bantuan guru, dll. Hal ini berguna untuk mempersiapkan murid-murid tunarungu dan tunawicara untuk bisa berinteraksi di dunia sebenarnya layaknya orang biasa.

3. SLBC
SLBC ditujukan bagi anak-anak yang tunagrahita. Tunagrahita adalah keadaan keterbelakangan mental atau biasa dikenal juga sebagai retardasi mental. Retardasi mental adalah adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ dibawah 70) dan sulit menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. Retardasi mental ini sendiri memiliki empat tipe yang dibedakan berdasarkan tingkat intelegensinya, yaitu:
• Ringan (mild) : 55-70
• Moderat     : 40-54
• Berat (severe) : 25-39
• Parah     : < 25

Nah, untuk anak-anak yang tunagrahita dapat memperoleh pendidikan melalui Sekolah Luar Biasa C (SLBC).  Berikut adalah hal-hal yang diperhatikan dalam SLBC ini, yaitu:

a. Tata Ruang Kelas
Hal yang penting dalam tata ruang untuk anak yang retardasi mental yaitu tempat yang luas sekitar ukuran 6x7 meter.
Satu kelasnya maksimalnya terdiri dari 10 orang anak dan 5 guru didalamnya. Sehingga satu guru dapat mengawasi dan mengajar untuk dua orang anak. Ruang harus luas sehingga anak dapat secara bebas bergerak dan berinteraksi. Kemudian, barang-barang yang digunakan, seperti mainan, juga harus aman, baik dari apa mainan dibuat maupun dari segi kandungan kimia didalam mainan, haruslah yang tidak membahayakan sehingga dapat meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Ruang dibuat senyaman mungkin, seperti menggunakan AC dan pengharum ruangan. 
Bentuk meja sengaja dibuat gaya seminar sehingga pengajar dapat mengajari secara face-to-face kepada si anak. Disediakan pula karpet tempat bermain si anak, walaupun dinamakan tempat bermain, karpet tersebut dapat digunakan dalam proses belajar jika si anak sulit untuk dapat duduk tenang di kursi. Dan kelas juga di-cat dengan warna yang bagus yang dapat membawa perasaan tenang, damai, dan sejuk serta hindari menggunakan warna yang terlalu mencolok.

b. Pengajar
Dalam memilih pengajar untuk SLBC haruslah memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, mampu berkomunikasi dengan baik, serta alangkah lebih baik jika tamatan dari psikologi. Sehingga, dapat memahami si anak dengan lebih baik. Kemudian pengajarnya juga harus kreatif sehingga pembelajaran tidak membosankan bagi si anak. Pengajar yang terdapat di dalam kelas sebanyak 5 orang dengan 10 orang siswa dengan harapan dapat secara efektif dalam proses belajar-mengajar.

c. Kurikulum
Kurikulum yang digunakan dalam proses belajar-mengajar ini harus mengajarkan terlebih dahulu tentang ‘Bina Diri” yang didalamnya mencakup: 
• Mengurus diri
• Menolong diri
• Komunikasi dan Sosialisasi
Dan diharapkan, guru mengajarinya dengan melalui teknik modeling, yaitu mempraktekan secara langsung agar si anak memperhatikan dan melakukan hal yang diajarkan oleh guru tersebut. Dan ibu guru tersebut juga harus mampu menjelaskan segala sesuatunya secara konkret dan rinci. Karena anak-anak retardasi mental cenderung tidak mampu memproses hal-hal yang abstrak.
Strateginya yaitu, pembelajaran yang diindividualisasikan dimana mereka belajar bersama-sama dalam satu kelastetapi kedalaman dan keluasan materi, pendekatan/metode maupun teknik berbeda-beda sesuai dengan kemaampuan dan kebutuhan si anak atau peserta didik. Metode yang digunakan dapat pula dengan metode kooperatif dimana dapat mengajari anak dalam komunikasi dan sosialisasi dengan orang lain.

d. Biaya
Jika membicarakan tentang biaya SLBC ini relatif mahal, karena membutuhkan energi dan usaha ekstra bagi para pengajar. Jika saya yang membuat sekolah, uang sekolah si anak Rp 350.000/bulan dan akan mendapat potongan harga bagi orang tua yang kurang mampu.

e. Fasilitas
Fasilitas sekolah merupakan penunjang aspek penting dalam membangun sekolah khususnya SLBC ini. Fasilitasnya dapat berupa indoor maupun outdoor.
• Fasilitas Indoor :
- Toilet
- Musholla
- Ruang khusus ekstrakurikuler, seperti: ruang alat musik
- Ruang khusus bermain dan pengasuhnya
- Perpustakaan mini
- 1 Kamar tidur anak dengan 4 single bed
- Ruang konsultasi bagi orang tua
• Fasilitas Outdoor :
- Taman bermain
- Kantin
- Kolam renang mini
- Pendopo 
- Halaman parkir
- Security atau satpam

f. Orientasi Belajar
Tentu saja orientasi belajar pada anak SLBC yaitu TCL (Teacher-Centered Learning), yaitu sistem belajar dimana guru berperan penting.

4. SLBD
Sekolah luar biasa (SLB) tipe D ini adalah sekolah bagi anak tuna daksa. Yaitu anak-anak berkebutuhan khusus secara fisik, atau cacat pada tubuh. SLB-D tentunya harus memiliki pengaturan khusus yang berbeda dari sekolah biasa, yang dapat memberi kemudahan bagi siswa-siswanya.
Berikut beberapa pengaturan dan ketentuan dalam SLB-D :
a. Manajemen Kelas
• Kelas antara murid dengan tingkat kebutuhan yang berbeda sebaiknya dipisah. Misalkan anak dengan cacat fisik ringan dipisahkan dengan cacat fisik berat. 
• Jumlah murid tiap kelas tidak melebihi 20 orang.
• Setiap kelas memiliki asisten guru yang membantu murid setiap saat. 
• Gaya pengelolaan kelas yaitu duduk melingkar. Guru dapat memonitor murid-muridnya, antar siswa juga dapat berkomunikasi dengan baik. 
• Membuat dan mendiskusikan aturan yang disepakati bersama sebelum kelas.

b. Guru
Guru dalam Sekolah Luar Biasa tentu saja harus orang-orang berpengalaman atau setidaknya mengenal dunia anak berkebutuhan khusus tersebut. Jika tidak, maka guru - guru tersebut harus terlebih dahulu diberikan training atau pelatihan.
 Orang yang memiliki kebutuhan khusus juga dapat menjadi guru di SLB. Mereka merupakan orang yang paling berpengalaman karena mengalami sendiri. Mereka akan lebih mengerti siswa, dan mengetahui hal- hal apa yang dibutuhkan siswa. Selain itu, dapat juga menjadi motivasi bagi siswa-siswanya , bahwa orang berkebutuhan khusus juga dapat memiliki karier dan diterima masyarakat.

c. Kurikulum
Anak berkebutuhan khusus tuna daksa  belum tentu memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah dari anak-anak normal. Kurikulum dari sekolah normal bisa saja diterapkan. Hanya saja mungkin ada aspek-aspek tertentu yang terbatas karena adanya keterbatasan. 
Dalam setiap SLB perlu adanya kelas motivasi. Yaitu kelas dimana pengajar memberikan motivasi pada siswa-siswanya. Memberikan pengertian pada siswa-siswanya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Serta memotivasi murid-murid agar tidak merendahkan diri sendiri. Meningkatkan self-concept dan self-esteem mereka. 
Beberapa kelas khusus yang dapat diadakan :
• Anak dengan cacat pada bagian tubuh tertentu diberikan pelajaran tambahan. Misalnya, anak dengan cacat di tangan atau jari, maka diberikan kelas tambahan untuk belajar menulis dengan baik.
• Kelas khusus pelatihan kaki bagi anak yang tidak dapat menggunakan tangan. Ini bertujuan agar kaki anak dapat lebih terlatih melakukan beberapa tugas menggantikan tangannya.

d. Biaya
Biaya yang dikenakan pada murid sekitar Rp.350.000,- per murid. Untuk anak yang kurang mampu diberi keringanan uang sekolah.

e. Fasilitas
• Setiap kelas sebaiknya dilengkapi rak buku untuk masing-masing murid. Rak tersebut didesain dengan tinggi berbeda-beda, sesuai kebutuhan si anak. Misalnya, anak yang cacat kaki , tidak bisa berdiri, diberi rak yang bawah. 
• Jika dalam sekolah terdapat tangga, maka dibuat jalur khusus kursi roda.
• Di sepanjang lorong kelas dalam sekolah, di buat pegangan tangan di dinding-dinding yang memudahkan siswa berjalan. 
• Berbagai fasilitas olahraga dan hobi yang berbeda sesuai kebutuhan khusus anak. Misalnya anak dengan cacat tangan bermain sepak bola. Anak dengan cacat kaki bermain catur. 
• Toilet di sekolah didesain untuk orang yang berkebutuhan khusus.

f. Orientasi Belajar
Dalam sekolah luar biasa, orientasi belajar siswa cenderung TCL atau Teacher-Centered Learning, yaitu proses pembelajaran dalam kelas yang berfokus pada gurunya. Guru mengajarkan setiap hal yang diajarkan dan murid mendengarkan. 
Student-Centered Learning atau SCL juga dapat diterapkan. Namun, tentu saja harus melihat pelajaran apa yang dipelajari dan juga melihat murid dalam kelas tersebut apakah mampu. Contohnya kelas kerajinan tangan, guru hanya perlu member tahu cara dasar pengerjaannya, dan selanjutnya dapat dikerjakan murid itu sendiri. Setiap karya yang dihasilkan siswa juga harus diberi penilaian dan umpan balik oleh si guru.

5. SLBE
SLBE adalah sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak yang mengalami gangguan emosi.

a. Susunan Kelas
Susunan kelas dibuat dengan gaya seminar. Dimana semua anak duduk dan bergabung dalam bentuk lingkaran besar ataupun U.  Sehingga anak dapat bersosialisasi dengan baik antara anak yang satu dengan anak yang lain. Sehingga bisa terbentuk kehidupan sosial yang baik anatar anak yang satu dengan anak yang lain dan dapat beradaptasi dengan semua anak, bukan hanya sebagian.

b. Guru
Akan sangat diperlukan seorang guru yang sangat sabar dan tekun, yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak anak tunalaras. Sehingga baik emosi maupun tingkah laku dari anak tersebut dapat sedikit terkontrol.

c. Kurikulum
Kurikulum yang digunakan merupakan pembelajaran terpatu, sama seperti anak sekolah yang normal lainnya, tetapi disini peran guru yang sabar dan juga memberi rasa nyaman harus dioptimalkan, sehingga anak tuna laras tidak merasa tertekan dengan pembelajaran yang sedang berlangsung. Dan perlu ditambahkan pula kurikulum “moving class” agar anak tuna laras terbiasa dan mulai bersosialisasi dengan dunia luar, dan harus mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

d. Biaya
400.000/bulan untuk kelas reguler dan biaya tambahan 300.000 untuk anak yang diasramakan. Dan menyediakan beasiswa bagi juara kelas I, II, dan III. Yaitu hanya membayar uang sekolah 10% bagi juara I, 30% bagi juara II, dan 50% bagi juara III.

e. Fasilitas
Fasilitas yang akan disediakan di sekolah khusus untuk anak tuna laras seperti asrama, ruang bermain, ruang konsultasi, dan juga ruang yang di design seberti rumah sendiri. Sehingga tidak terlalu sulit untuk anak agar dapat beradaptasi. Dan fasilitas ruang olahraga, agar anak tunalarass dapat melampiaskan ataupun mengalihkan emosinya ke arah yang lebih positif.

f. Orientasi Belajar
Orientasi belajar yang digunakan Teacher Centre Learning. Karena tidak memungkinkan bagi anak tuna laras dengan ketidakstabilan emosi untuk dicanangkan orientassi belajar Student Center Learning.


Sekian sekolah luar biasa yang ciptaan kelompok 6. Diharapkan Sekolah Luar Biasa di Indonesia bertambah banyak sehingga anak-anak yang mempunyai kekurangan bisa mendapat pendidikan layaknya anak-anak normal. Terima Kasih.

Friday, April 26, 2013

Pendidikan Anak Pra Sekolah (Anak Usia Dini)

Assalamualaikum wr. wb. 
Pada kesempatan ini saya akan membahas tentang Pendidikan Anak Pra Sekolah (Anak Usia Dini)

Pendidikan Anak Pra Sekolah (Anak Usia Dini)

Bapak Taman Kanak-kanak : Friedrick Wilhelm August Froebel (lahir di Jerman, 21 April 1782, dan Meninggal di Jerman 21 Juni 1852 pada umur 70 tahun)

Tokoh dari Indonesia yang memberikan kontribusi mengenai pendidikan anak usia dini yaitu Ki Hajar Dewantara. Pandangan Ki Hajar Dewantara banyak dipengaruhi oleh Froebel dan Montessori. Ciri khas pendidikan anak usia dini menurut Ki Hajar Dewantara adalah budi pekerti dan sistem among. Bentuknya bukan mata pelajaran, tetapi menanamkan nilai, martabat kemanusiaan, nilai moral watak, dan pada akhirnya pembentukan manusia yang berkepribadian.
Inti dari sistem among itu sendiri adalah :
*   Ing ngarso sing tulodo (Pendidik berada didepan wajib memberikan teladan bagi anak didik)
*   Ing madya mangun karso (Pendidik berada ditengah-tengah harus lebih banyak membangun serta membangkitkan kemauan sehingga anak mempunyai kesempatan untuk mecoba berbuat sendiri) dan
*   Tut wuri handayani (Pendidik di belakang wajib memberi dorongan serta memantau agar anak mampu bekerja sendiri).

Definisi Pendidikan Anak Usia Dini :
Berdasarkan UU No 20 Thn 2003, Pasal. 1, Butir 14 PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Tujuan umum PAUD :
Membantu mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan “ Fisik, intelektual, emosional,moral & agama” secara optimal dalam lingkungan pendidikan yang kondusif, demokratis & kompetitif.

Ruang Lingkup Anak Usia Dini :
Infant dari lahir - 12 bulan, Toddler usia 1 - 3 tahun, Pra Sekolah usia 3 - 6 tahun, dan Awal SD dari usia 6 - 8 tahun.

     Ketentuan tentang PAUD (Pasal 28 UU No 20 Thn 2003) :

(1)            Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
(2)            Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.
(3)            Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.
(4)            Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.
(5)            Pendidikan anak dini usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
(6)            Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.

Menurut saya Pendidikan Anak Usia Dini sekarang fokus pada pelajaran seperti bahasa asing, mengeja atau membaca dan lain sebagainya. Mereka seperti dipaksa untuk mempelajari itu semua padahal di usia mereka inti dari pendidikan itu sendiri adalah menyenangkan sembari guru-gurunya mengembangkan kreativitas mereka seperti menurut John Dewey sekolah sebaiknya mempersiapkan anak guna menghadapi kehidupan masa kini bukan masa yang akan datang yang belum jelas. Bahkan akan lebih menyenangkan anak-anak pada usia dini ini belajar sambil berpartisipasi dalam kegiatan fisik yang tercermin dari kegiatan lari, melompat dan segala aktivitas yang mengembangkan kreativitas mereka dan segala kegiatan yang tidak membuat anak-anak usia dini tersebut merasa cemas berkepanjangan dan depresi. Selain itu ternyata Pendidikan anak usia dini mengajarkan Seni dan Budaya Indonesia seperti Tarian sehingga Anak Usia Dini dapat mengetahui kesenian Indonesia sambil mereka mengembangkan kreativitasnya dan juga pendidikan anak usia dini sekarang mempunyai program belajar "Moving Class" yaitu kunjungan ke tempat-tempat tertentu untuk mempelajari hal-hal tertentu secara langsung seperti berkunjung ke kebun binatang untuk memperkenalkan anak-anak usia dini kepada binatang-binatang yang ada di kebun binatang tersebut.
Demikian yang bisa saya sampaikan tentang Anak Pra Sekolah (Anak Usia Dini). Mohon maaf bila terjadi kekhilafan. :)
Wassalamualaikum wr. wb.